#
Mimpi yang Terpental
“Mak, aku ingin melanjutkan sekolah”,
pintaku penuh harap suatu hari.
Emak lekat menatap.
Semburat merah mengiring segalur air
mata. “Sekolah le? Kamu tahu kita miskin,
tegakah kamu…sedangkan untuk makan kita susah?”, suaranya lirih penuh duka.
Getaran halus merambati pundak.
Kucari bapak, setali
tiga uang, kegagahan seorang bapak terbantai kemiskinan. Mata kuhunjam ke tanah
pasrah. “Kemana kumeminta, kalau bukan mereka. Terlalu kecil kujual jasa
pembayar uang sekolah. Wir, barangkali inilah kehidupan yang mesti kau jalani”.
Usai lulus SMP, kudipaksa
menerima pahit kenyataan tak bisa
melanjutkan ke SMA idamanku. Sulit kupaham bahwa keinginan untuk sekolah saja
menjadi suatu hal mustahil. Sementara temanku tak bingung karena orang tua mereka
berlimpah harta. Sedang kedua orang tuaku hanya buruh tani, bergulat dengan
rumput teki dan kotoran sapi.
